Saturday, 7 October 2017

Sepuluh kekuatan yang mendatarkan dunia Abad baru kreavitas: ketika dinding runtuh dan jendela dibangun

Pada tulisan pertama, tembok Berlin dijebol tepatnya 9 Nopember 1989. Itu adalah revolusi mereka, runtunya tembok Berlin pada 9 November 1989 telah meruntuhkan kekuatan dan juga membebaskan semua orang yang terbelunggu di Kekaisaran Soviet. Kejadian tersebut mempengaruhi kekuasaan di seluruh dunia kea rah pemerintahan demokratis, berdasarkan konsesus, dan berorientasi pasar  bebas. Runtuhnya tembok Brlin tidak hanya mendatarkan pilihan kea rah kapitalisme pasar bebas dan membebaskan energy yang terkungkung bagi jutaan orang diberbagai tempat, seperti India, Brazil, China, dan bekas Kekaisaran Soviet. Kejadian tersebut memungkinkan kita melihat dengan cara berbeda, yaitu melihatnya lebih sebagai sesuatu yang utuh tanpa sekat. Dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni setelah 9 Nopember tersebut, karena setiap ledakan kebebasan akan merangsang ledakan-ledakan lain.
Walaupun pengaruh positif dari runtuhnya tembok Berlin itu jelas terlihat, penyebab keruntuhannya tidak jelas. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan betapa pentingnya kejadian ini dalam mendatarkan dunia. Munculnya PC berbasis Windows yang hampir bersamaan dengan runtuhnya tembok Berlin itu  memicu proses pendataran ini. Salah satu semboyan Bill Gates untuk Microsoft yang didirikannya ialah perusahaan bertujuan member individu “IAYF” – information at your fingertips (informasi diujung jari). Dibagian depan sudah di katakana bahwa inti dari era Globalisasi 3.0 ini adalah para individu mampu membuat diri mereka mendunia. Pertukaran semua informasi digital itu terjadi secara global.
Zaman konektifitas: ketika web mendunia dan Netscape Memasyarakat
            Pertengahan 1990-an, PC-Windows mencapai masa stabilitasnya. Dengan mulai munculnya internet sebagai alat konektivitas global yang murah, World Wide Web – mengatasi internet – menjadi dunia maya yang tampak ajaib sehingga orang bisa menempatkan karya digitalnya untuk diakses siapapun, maupun tersebarnya Web Browser komersial yang dapat memangil dokumen atau halaman Web yang tersimpan di Web site serta menanyakanya di layar komputer dengan cara yang mudah bagi siapapun.

Setiap lapisan inovasi dibangun diatas inovasi lain, kata Andereesen yang setelah mendirikan Netscape memulai perusahaan high-tech lain, Opsware Inc. Andreesen menyinggung keunikan dunia datar dan era Globalisasi 3.0. Dunia ini akan didorong oleh kelompok-kelompok individu, dengan latar belakang yang lebih beragam dari pada keduabelas ilmuwan yang membangun dunia andreesen 

RESUME BAB 2 ANTROPOLOGI DAN PEMBANGUNAN

PENGANTAR
Dalam sub bab ini menjelaskan bahwa sebagai sarjana antropologi harus dapat menggunakan ilmunya dalam kegiatan-kegiatan yang praktis, untuk bisa memanfaatkan ilmunya bagi pembangunan Indonesia maka perlu mengetahui beberapa pengetahuan dasar. Khusunya dibidang sosiocultural, yang pertama harus menguasai tentang paradigm, yang kedua harus memahami teori-teori pembangunan secara umum. Ketiga, antropolog tersebut seharusnya mengerti dan memahami tentang kebijakan-kebijakan pembangunan serta mengikuti perkembangannya. Yang terakhir seorang antropolog harus menguasai bahasa inggris sebab banyak buku antropologi yang berbahasa inggris.
Paradigma Antropologi
1.       OBJEK KAJIAN ANTROPOLOGI
Antropologi sosiocultural secara tradisional berasal dari kajian-kajian terhadap kelompok-kelompok masyarakat berskala kecil. Dulu masyarakat yang seperti itu disebut masyarakat primitive atau masyarakat savage oleh para peneliti. Setelah sekian lama, masyarakat primitive sudah hampir punah karena mereka bersalin menjadi masyarakat modern. Tapi tinggalan-tinggalan konsep, teori, metode dan pendekatan hasil dari penelitian antropologi masih menghiasi paradigm antropologi.
2.       METODOLOGI
Dalam antropologi sosiocultural, metode tidak terlepas dari teori. Secara teoritis dan metodologis, antropologi terbagi menjadi dua  peringkat. Peringkat bawah disebut etnografi, sedangkan untuk yang peringkat atas disebut etnologi. Melalui penelitian lapangan seorang peneliti antropologi sosiokultural disebut sebagai etnografer. Sedangkan peringkat diatasnya, melalui karya-karya komparatif dia berupaya membangun teori-teori demikian itu disebut etnologi. Etnografi merupakan metode penelitian lapangan, yang dilakukan secara mendalam melalui keterlibatan langsung sang peneliti dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian, dengan mengambil satu kelompok untuk menjadi studi kasus dalam penelitiannya.
3.       TEORI
TEORI-TEORI PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN INDONESIA
Ini adalah yang perlu dikuasi oleh para antropolog. Pemangunan di Indonesia terdapat lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu: pancasila sebagai dasar filsafat bangsa, UUD 1945 sebagai konstitusi Indonesia, GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara), PELITA dan Kebijakan-kebijakan departemen. Seperti kebijakan dalam pembangunan kehutanan yang perlu belajar dari UUD no. 33 pasal 3 kemudian UU no. 5 tahun 1960 tentang dasar-dasar agraria. Dari sini kemudian meningkatkan ke GBHN yang perlu mempelajari tentang UUD pokok kehutanan no.41 tahun 1999 beserta keputusan mentri dan dirjen yang relevan. Barulah kita sebagai antropolok masuk kedalam bagian yang khusus, yang mengerti secara menyeluruh. Dengan begitu sebagai antropolog, ketika kita diminta untuk menyusun progam pembangunan masyarakat hutan di Kalimantan misalnya. Antropolog tidak hanya mengerti tentang kebijakan-kebijakan pembangunan tapi lebih dari itu kita diharapkan juga mampu menguasai ciri-ciri umum masyarakat Kalimantan dan kultur suku suku di Kalimantan.

SITUASI DEPARTEMEN ANTROPOLOGI UNIVERSITAS INDONESIA
Seorang antropolog tidak akan pernah memahami cara menerapkan ilmu antropologi dalam pembangunan Indonesia dan tidak mengerti peranan yang harus dilakukan dalam proyek pembangunan, kecuali dia menguasai sekurang-kurangnya tiga komponen yang dijelaskan diatas, yakni: paradigma antropologi, teori-teori sosial pembangunan dan kebijakan-kebijakan pembangunan di Indonesia.
Masalah yang paling mendasar di departemen antropologi universitas Indonesia dan di departemen antropologi di seluruh Indonesia adalah kurangnya ketersediaan tenaga terdidik dan ahli dibidang pendidikan. Selama ini pendidikan ditempatkan di IKIP tidak di Universitas, yang seolah olah Universitas bukan lembaga pendidikan. Akibatnya dosen-dosen tidak menguasai menejemen tentang pendidikan.  Selain itu bahan yang diajarkandalam progam studi antropologi juga merupakan bidang bidang kajian lain yang bisa membuat sarjana keluar dari departemen atau progam studi antropologi.
SEBUAH TANTANGAN ANTROPOLOGI PEMBANGUNAN DI INDONESIA
Budaya adalah salah satu konsep pokok dalam ilmu antropologi, dan juga merupakan konsep penting dalam pembangunan Indonesia. Apakah antropologi dapat memberikan sumbangan dalam pembangunan Indonesia, khususnya yang berkaitan dalam pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi”Pemerinntah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”. Pemerintah dari sudut pandang pembangunan Indonesia yang sesuai dengan UUD 1945 dan GBHN, memandang kebudayaan dari dua sudut pandang, yaitu pendekatan sektoral dan pendekatan regional. Secara sektoral, pasal 32 UUD 1945 tidaklah mengacu pada “kulture”  (culture), tapi mengacu pada “hal ikhwal kebudayaan” yang bisa dilihat dari terjemahan direktorat jendral kebudayaan dalam bahasa Inggris adalah the directorate General of Cultural Affairs, bukan The Directorate General of Culture. Secara regional, “kebudayaan” dipandang oleh pemerintah sebagai “tradisi kebudayaan” yang menjadi milik setiap suku yang ada Indonesia.
                Dengan berpegangan dua pengertian diatas, bahwa yang dimaksud dengan “kebudayaan” oleh pemerintah adalah “hal ihwal kebudayaan” atau “tradisi kebudayaan”, maka beberapa kalimat  yang tercantum dalam UUD 1945 dan penjelasanya, yang sering membingungkan para ahli antropologi karena sulit mencari jawaban dan indikasi keberhasilannya. Kebudayaan menurut pemerintah adalah hal ihkwal kebudayaan dan tradisi kebudayaan bukan kultur (cuture).


KONSEP KULTUR DALAM ANTROPOLOGI
Dalam antropologi terdapat dua aliran besar yang dapat mendefinisikan kultur (culture). Yaitu aliran behavioral (melihat kultur sebagai a total way of life) aliran ini cocok dengan pandangan almarhum Prof. Koentjaranigrat yang memilah nilah total way of life ini kedalam tujuh unsur budaya. Ini adalah metode yang muncul pada awal perkembangan antropologi yang digunakan etnografer untuk mengumpulkan data tentang sistem social budaya dari suatu suku bangsa selengkap lengkapnya. Sementara aliran ideational melihat culture sebagai suatu yang abstrak (gagasan dan pemikiran) yang membentuk pola perilaku masyarakat. Dari sini, bisa dijelaskan bahwa pengertian kebudayaan pemerintah dengan antropolog berbeda. Pemerintah berorientasi pada progam praktis dan problem oriented, yaitu kepada pembangunan bangsa, namun definisi dan tolak ukurnya belum jelas. Di sisi lain sebagai antropolog yang meilihat dari pengembangan teori dan dan aplikasinya dalam dalam penelitian etnografer. Kita memerlukan satu benang yang menghubungkan system pendidikan di perguruan tinggi dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Antropologi adalah sebuah science, sama seperti ilmu fisika, ekonomi, biologi , teknik sipil, arsitektur dan sebagainya yang disamping mempunyai sisi ilmiah juga punya sisi terapan.


Teori Max Weber: Modernisasi

 Teori Max Weber menekankan tentang nilai-nilai budaya yang menjelaskan tentang peran agama dalam pembentukan kapitalisme. Peran agama yang dikemukakan disini mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu. Kalau nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat diarahkan kepada sikap yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, maka proses pembangunan dalam masyarakat dapat terlaksana. Salah satu topik yang penting bagi masalah pembangunan yang dibahas oleh Max Weber adalah tentang peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat.  Mengapa beberapa negara di Eropa dan Amerikan Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dibawah sistem kapitalisme.
Setelah melakukan analisis, Weber mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah apa yang disebut Etika Protestan. Studi Weber ini merupakan salah satu studi pertama yang meneliti hubungan antara agama dan pertumbuhan ekonomi. Kalau agama kita perluas menjadi kebudayaan, studi Weber ini menjadi perangsang utama bagi munculnya studi tentang aspek kebudayaan tentang pembangunan. Dalam melakukan penelitian tentang aspek kebudayaan ini, peran agama pun menjadi sangat penting sebagai salah satu nilai kemasyarakatan yang sangat berpengaruh terhadap warga masyarakat tersebut. Sementara itu, istilah Etika Protestan menjadi sebuah konsep umum yang tidak dihubungkan lagi dengan agama Protestan itu sendiri. Etika Protestan menjadi sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih untuk mencapai sukses. 
Teori David McCleland : Need For Achievement
Teori ini menekankan pada aspek-aspek psikologi individu. Bagi McCleland, Need of achievement (kebutuhan untuk berprestasi), merupakan kebutuhan untuk mencapi sukses, yang diukur berdasarkan standar kesempatan dalm diri sesorang. Kebutuhan ini berhubungan erat denagn pekerjaan dan mengarahkan tingkah laku pada usaha ntuk mencapai prestasi tertentu. Motivasi berprestasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan atau mengerjakan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. Sebagai contoh, manajer yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi cenderung akan bekerja sebaik-baiknya agar dapat mencapai prestasi kerja dengan predikat terpuji. David C. Mc.Clelland (1961:112) mengemukakan 6 (enam) karakteristik orang yang mempunyai motif berprestasi tinggi, yaitu:
1.      Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi.
2.      Berani mengambil dan memikul resiko.
3.      Memiliki tujuan yang realistik.
4.      Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuan.
5.      Memanfaatkan umpan balik yang konkrit dalam semua kegiatan yang dilakukan.
6.      Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.
Teori Alex Inkeles: Manusia Modern

Teori Alex Inkeles menekankan tentang lingkungan material dalam hal ini lingkungan pekerjaan. Teori pada dasarnya berbicara tentang pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan dalam hal ini manusia modern. Tokoh ini mencoba memberikan ciri-ciri dari manusia modern, seperti : keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa menguasai alam. Alex Inkeles beranggapan, bahwa bagaimanapun juga manusia bisa diubah secara mendasar setelah dia menjadi dewasa, dan karena itu tidak ada manusia yang tetap menjadi tradisional dalam pandangan dan kepribadiannya hanya karena dia dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang tradisional. Artinya, dengan memberikan lingkungan yang tepat, setiap orang bisa diubah menjadi manusia modern setelah dia mencapai dewasa.